Tak ada Pemalas di Gehol

3:14:00 PM Gehol Gaul 5 Comments

Ilustrasi dari (www.p-wec.org)

Saat masih SD dan masih mengaji di salah satu pesantren atau masjid di Gehol, kental sekali nuansa kerja keras dan kemandirian yang ditanamkan para guru kami. Jika kami melakukan kesalahan atau bolos dari mengaji atau sekolah maka hukumannya adalah kerja, kerja dan kerja.

Jaman itu di Gehol alias Jetak sana, banyak sekali pelajaran hafalan. Mulai dari menghafal alfabet, angka, hingga lagu-lagu nasional dan daerah tertentu. Sementara di tempat mengajipun hafalan tidak mau kalah. Dimulai dari menghafal huruf hijaiyah, surat-surat pendek, kisah nabi hingga bacaan sholat menunggu setiap waktu.


Maka jangan heran jika dalam bermainpun kami terkadang sambil menghafal beberapa materi terutama materi menghafal untuk mengaji. Namun, jika sudah terlampau sulit atau otak tak mampu lagi menghafal, maka ada tindakan mudah untuk menghindarinya. Bolos!

Terkadang bolos bukan karena kesulitan menghafal, namun karena memang mental kami yang tidak kuat berdiri di hadapan kawan-kawan sendiri. Percayalah, sehafal apapun kami di rumah atau saat bermain, membacakannya sambil berdiri di depan kawan-kawan bukan hal yang mudah. Maju berdiri pada akhirnya lebih menakutkan dari hafalan itu sendiri.

Menjadikan bolos sebagai solusi bukanlah tanpa resiko. Karena setiap kali kami membolos alias tidak masuk dengan alasan tak jelas atau terbukti bohong maka hukuman akan menanti. Jika mengaji bolos sekali maka hukumannya bisa setara dengan tiga ember pasir. Bisa juga setara dengan satu ember batu kerakal.

Dengan kemampuan kami yang rata-rata dan beban hafalan yang begitu banyak, maka kadang jumlah bolos kami bisa sampai empat kali dalam seminggu. Jika dikalikan tiga ember pasir, maka seminggu kami harus menyetrokan 12 ember pasir. Namun, jangan harap menggadaikan kemampuan otak yang minim dengan berember-ember pasir dapat membebaskan diri dari materi hafalan. Justru hafalan kian menumpuk dan terkadang bisa dilipatgandakan.

Untuk menghindari maju hafalan di sekolah relatif lebih mudah daripada di tempat mengaji. Jika di langgar, mesjid atau pesantren bolos adalah kejahatan besar, di sekolah bolos termasuk pelanggaran biasa. Hal ini bisa dilihat dari jenis-jenis hukuman yang diberlakukan.

Jika murid sudah berani maju, meski tidak hafal, sang Guru takkan tega menghukum. Malah terkadang dia dengan baik hati masih rela mengajari kami mengais-ngais ingatan materi di otak kecil kami. Adapun jika bolos benar-benar dilakukan dan tanpa ada ijin resmi, maka ada tiga hukuman kerja yang bisa dilakukan. Yang pertama membuat penghapus, yang kedua membuat sapu lidi, dan yang terakhir adalah membuat tutuding alias alat tunjuk bagi guru.
Namun, di sekolahpun kami juga diwajibkan berkontribusi memberikan material bangunan seperti pasir dan batu. Hanya saja waktunya memang dikhususkan pada hari Sabtu dan dilakukan bersama-sama oleh seluruh siswa. Kebersamaan menjelajah Cigunung dengan teman satu sekolah adalah bonus tak terkira dari sekolah bagi kami. Para murid akan dengan gembira mengambil pasir dan batu meski jarak mengangkutnya bisa mencapai satu kilometer.

Mungkin di jaman sekarang perlakuan guru yang demikian bisa dilaporkan oleh orang tua murid dengan alasan eksploitasi anak dan sebagainya. Namun bagi kami, generasi yang mengenal HAM baru kemarin sore hukuman di atas adalah bekal menghadapi kerasnya hidup di masa depan.

Entah apakah ini karena kami yang notabene anak-anak masa lalu terlalu bodoh atau anak-anak sekarang yang terlalu cengeng? Yang jelas, terima kasih guru.

5 comments:

  1. yang penting bukan hukuman fisik yang main hajar saja...

    matur nuwun kang dedi sudah mampir...

    cek di "Link Lainnya"...

    ReplyDelete
  2. iya gan sama-sama ...
    di kampungku sana sejak dulu alhamdulillah hukuman fisik sangat jarang ...

    ReplyDelete
  3. gotong royongnya saya acungi jempollllll

    ReplyDelete
  4. ingat dulu waktu di kampung kediri jawa timur, kami sering di hukum di depan teman2, dan banyak teman2 yang bolos karena itu

    ReplyDelete
  5. @Taman Bacaan: inget banget dulu bangun pesantren sama sekolah paling yang bener2 butuh dana semen sama kayu ....
    @terapi qolbu: pesantren terutama gan, penanaman disiplin dan hukumannya gak sia-sia ...

    terima kasih dah mampir

    ReplyDelete