Belulang di Mungkal Tumpang (4)

5:12:00 PM Unknown 0 Comments



Padepokan Swargalega memiliki kompleks yang sangat megah. Kemegahannya hanya bisa disejajarkan dengan Kompleks Istana Geholsraya. Meski harus diakui bahwa cita rasa seni Pramponama jauh lebih kuat dan agung dari Sukamdani, penguasa Geholsraya.

Keagungan seni yang ditunjukkan Pramponama dalam bangunan Padepokan Swargalega terlihat amat megah. Lihat saja letak bangunan yang menjulang pada sebuah kawasan yang pintu masuknya harus melalui pesisir Cigunung. Bangunan tersebut terletak di sebuah batu karang yang berukuran sangat luas, hamper setengah Gehol ibukota Geholsraya. Daerah yang dinamakan Cikadingding tersebut adalah wilayah yang sangat dihindari setelah hutan Tumaregol.


Bangunan Padepokan Swargalega dikelilingi oleh tembok yang tinggi sepanjang tebing Cikadingding. Hal ini membuat tinggi kawasan batu karang tersebut terlihat lebih tinggi. Pintu gerbang Swargalega terhampar menghadap pantai. Jaraknya sendiri dari pantai terasa jauh sebab dihalangi oleh daerah berair dengan kedalaman setinggi dada orang dewasa. Namun, ada pintu rahasia yang memudahkan para pengikut Swargalega memasuki markas mereka tanpa basah oleh air laut. Siapapun, bahkan para pengikut Pramponama akan ditutup saat memasuki pintu rahasia tersebut. Hanya Pramponama sendiri dan selusin pengawal kepercayaannya yang mengetahui keberadaan pintu tersebut.

Bangunan utama Padepokan Swargalega berbentuk menara dengan ketinggian sepuluh tingkat. Tingkat kesepuluh adalah tempat tinggal Pramponama. Bangunan tersebut terbuat dari batu karang yang dipahat dengan teknik sangat tinggi. Masing-masing sisi berisikan relief mengenai kisah keluhuran dan keagungan Swargalega. 

“Geholsraya sekarang ini seolah kerajaan tanpa pemimpin,” batin Pramponama memandang ke arah Geholsraya dari tempat tinggalnya yang lebih tinggi beberapa puluh kali dari kediaman sang raja.

“Kemundurannya sangat terasa. Sukamdani hanya mementingkan perut rakyatnya. Tak ada keinginan mengagungkan kerajaan dengan membuat sebuah monument kebanggaan yang bisa mengingatkan rakyat Geholsraya akan keagungan negerinya beberapa ratus tahun ke depan,” kembali ia membatin.

“Padahal, negeri ini penuh dengan keagungan kisah dan mitos yang seharusnya bisa digali dan dijadikan titik tolak membangun kejayaan negeri. Tidak tahukah Sukamdani bahwa di bawah kakinya terdapat bangunan monumental yang leluhur Geholsraya bangun untuk memuliakan peradaban. Seberapa buta ia akan teks-teks yang ada diperpustakaan kerajaan. Bukankah disana terdapat begitu banyak kisah agung bangsa ini?” wajahnya kian menunjukkan kegusaran.

“Haruskah aku membuka matanya betapa negeri ini agung jika ia mau sedikit saja membuka diri akan pengetahuan yang selama ini ia hindari?” 

Asyik merenung membuat Pramponama tidak awas dan waspada. Ia melewatkan sebuah makhluk yang terbang dengan cepat kea rah sisi selatan padepokannya. Benda yang melayang tersebut adalah Langlayangan Sarju sang penguasa Kaum Margol. Sebagaimana janjinya, Sarju dan Jatianom menyusup ke Padepokan Swargalega demi memuaskan pertanyaan mereka tentang kisah-kisah kuno yang kini hanya jadi dongeng menakuti bocah belaka.

Langlayangan Sarju melayang ke sisi selatan yang dinamakan Jatindra oleh pengikut Swargalega. Kawasan ini adalah kawasan yang dikeramatkan karena terdapat gua tempat Pramponama bersemedi. Selain itu, di kawasan ini ada ruang rahasia yang dijadikan sebagai tempat membaca. Di dalam ruangan ini terdapat banyak sekali teks-teks kuno yang dikumpulkan Pramponama dari berbagai wilayah di Geholsraya.

Sebenarnya, Sarju dan Jatianom tidak mengetahui bahwa daerah tempat Langlayangan mereka mendarat tersebut adalah tempat yang mereka cari. Sarju mengarahkan tunggangannya kesana sebab daerah Jatindra inilah yang paling gelap di puncak Cikadingding. Ia sedah beberapa waktu mengintai markas Swargalega berbekal menunggangi Langlayangan kesayangannya tersebut.

“Bersembunyilah Jatayu,” ujar Sarju pada Langlayangannya.

(bersambung)

0 comments: