Yang Muda Yang Menyatukan

11:16:00 AM Unknown 2 Comments


Ustadz Cepot saat Mengisi Halalbihalal Gehol

Warga Gehol alias Jetak, yang ada di desa Sindangwangi, Kecamatan Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, telah sekitar 25 tahun tersegregasi dalam dua arus keyakinan. Yang satu kekeh dalam naungan NU yang telah berakar lama di daerah yang sempat jadi basis DI/TII ini. Yang lainnya masuk dalam pelukan ormas yang sejatinya adalah adik kandung NU, Muhammadiyah.

Kanalisasi warga dalam keyakinan tak ayal melebar dalam kehidupan sehari-hari mereka. Munculnya dua organisasi keagamaan ini sering berujung pada letupan-letupan kecil yang didasari emosi sesaat. Apalagi pesantren yang mewadahi kedua organisasi agama ini juga memiliki santri yang tak sedikit.

Dari keyakinan melebar ke ranah sosial, politik, dan ekonomi. Dalam kegiatan keagamaan, sudah bukan rahasia lagi jika pelaksanaannya selalu terpisah. Jumatan, Sholat Ied, amil zakat, hingga panitia qurban selalu terbagi. Ironisnya hal ini berefek pada penentuan siapa yang berhak menerima zakat dan qurban. Masing-masing organisasi pada akhirnya mendahulukan konstituennya untuk menikmati.
Ketua NU-Muhammadiyah Bersatu

Beruntunglah ada Gehol Community, sebuah organisasi pemuda yang dibentuk atas dasar pertemanan di dunia maya. Mereka yang membentuk organisasi ini adalah anak-anak muda yang bosan berkonflik. Organisasi inilah yang mendorong rekonsiliasi semua penduduk Gehol tak peduli organisasi keagamaan yang dianut, politik yang dipegang, atau kalangan mana ia berada. Semua didorong untuk bersatu demi mengangkat Gehol dari keterpurukan.

Panitia Sunatan Massal Gehol Community
Aksi ini awalnya hanya kecil saja gaungnya. Namun bak bola salju, kian lama aksi ini kian membesar dan diinplementasikan menjadi sebuah ajang sosial bagi warga. Aksi pertama dilaksanakan tak lama setelah organisasi ini didirikan pada 2 Oktober 2011. Khitanan missal yang hanya diikuti empat orang bocah ini adalah buah karya pertama Gehol Community. Sebuah pencapaian yang lumayan mengingat usianya yang baru seumur jagung.

Organisasi ini murni nirlaba, mencari dana dengan mengumpulkannya dari anggota. Anggotanya sendiri tersebar di berbagai kota. Anak-anak muda yang terpaksa berpencar mencari pencaharian di berbagai kota di Indonesia ini tergugah dengan kondisi desa yang kian lama kian dalam terperosok dalam egoisme kelompok dan kubangan perpecahan.
Semua Tokoh Gehol Disatukan

Belum puas dengan karya mereka, Gehol Community yang awalnya dipandang sebelah mata oleh warga karena niatnya menyatukan Gehol dianggap terlalu muluk kemudian datang dengan gebrakan keduanya. Hanya beberapa hari setelah Idul Fitri 1433, Gehol Community menyelenggarakan acara halal bihalal yang mendatangkan ustadz langganan televisi, Ustadz Cepot.

Salah satu partisipan sunatan massal
Dinaungi tausyiah jenaka dan mencerahkan inilah tonggak persatuan ditancapkan dalam sanubari hadirin Gehol. Kedua ketua organisasi keagamaan yang telah lama dipagari ego kemudian rela mengesampingkan ego mereka untuk bersalaman dan berpelukan di panggung acara. Sebuah momen yang dengan serta-merta membuat hadirin mengumandangkan shalawat badar. Alunan shalawat yang membuat merinding ini membuat para tetua kampung Gehol menyadari bahwa persatuan yang digagas oleh Gehol Community bisa terjadi.

Adalah Tri Heriyanto, Asep, Fathur, Adha, Gefeng, Anggung, dan sederet nama lainnya yang bisa dilihat di page Facebook Gehol Community, yang dengan semangat baja berusaha sekuat tenaga memberi bukti bahwa Gehol bisa bersatu. Gehol yang karena religiusitasnya hingga rela bertengkar harus diselamatkan. Religiusitas yang melimpah tersebut akan sangat memberi manfaat besar jika disatukan.

Gehol Community: Yang Muda Yang Menyatukan
Layaknya lembaga independent yang mengandalkan anggota dalam berbakti, organisasi inipun tak luput dari kendala. Dana adalah salah satunya, sebuah kendala klasik yang tetap ada karena memang sumber daya anggotanya yang juga perantau ini memang terbatas. Untuk itu, dukungan tentu sangat diperlukan agar pemuda-pemuda yang dengan berani mengambil tanggung jawab ini bisa berkarya dengan lebih baik lagi. Jika persatuan NU-Muhammadiyah di Gehol bisa ditindaklanjuti dengan berbagai kegiatan tentu merupakan sebuah pencapaian yang patut diacungi jempol.

Sungai Yang Mengering
Salah satu kegiatan yang bisa dijadikan batu loncatan dalam memelihara persatuan dan kesatuan NU-Muhammadiyah di Gehol adalah Idul Adha. Dengan membentuk panitia qurban, Gehol Community bisa memutus rantai egoisme seperti yang terjadi dahulu. Lebih mementingkan konstituen masing-masing tentu harus dikikis sebab sejatinya qurban adalah hak semua orang.

Semangat mereka yang butuh dukungan itulah yang saya ajukan untuk dibantu oleh Extra Joss dalam Lomba Blog bertemakan "Jiwa Laki Berani Berqurban saat ini. Gehol Community diketuai oleh Tri Heryanto atau akun Facebook Mbah Dukeng dengan nomor telepon 081349479433. Alasan-alsan di atas saya rasa cukup untuk mendukung gerakan mereka menyatukan dan membantu ummat melalui qurban.

Desa Sindangwangi di mana Gehol berada sangat berhak menerima bantuan tersebut apalagi Idul Adha saat ini bertepatan dengan musim kemarau panjang. Sebuah musim yang sulit bagi sebagian penduduk yang menggantungkan kehidupan pada hasil pertanian.

Nama penerima hewan kurban: Warga Jetak, Sindangwangi, Bantarkawung, Brebes, Jateng melalui Gehol Community
Nomor telepon: Ketua Gehol Community 081349479433 atau 085752254533
Alamat lengkap: Jetak, Sindangwangi, Bantarkawung, Brebes, Jateng

Nomor kontak Vlogger: 085215010357
Alamat email: irawanasg@yahoo.com
Akun twitter: @irawanisme


2 comments: