Pilkada DKI oleh Si Bodoh

11:09:00 AM Unknown 0 Comments


Permainan lempar gelang tentu hampir semua tahu. Permainan yang doleh sebagian orang dikategorikan judi ini menuntut keahlian yang mumpuni jika tak ingin rugi. Ketepatan membidik sekaligus kesabaran mungkin merupakan kuncinya. Tentu saja, keberuntungan mutlak diperlukan.

Bayangkan saja, hadiah yang disediakan adalah jejeran botol minuman ringan tanpa penghalang, botol minuman berenergi yang di atasnya diberi potongan kayu, minuman ringan berukuran besar yang diganduli rokok, hingga ponsel. Tentu saja ponsel yang dijadikan hadiah adalah handphone dengan papan ketik qwerty yang tentu saja besar. Yang pasti, dengan diameter gelang yang hanya sedikit lebih besar dari mulut botol tentu hal yang sulit agar tidak merugi.

Dengan alat yang dibuat demikian tersebut, maka peluang paling besar hanya memperebutkan hadiah berupa botol minuam ringan seharga tiga ribu rupiah. Harga yang harus ditebus untuk dapat melemparkannya adalah seribu rupiah untuk enam gelang. Jika  akurasi lemparan, kesabaran, dan keberuntungan menyatu, bukan tidak mungkin dengan uang seribu minimal mendapatkan satu botol minuman. Namun jika ketiganya jauh dari diri Anda, maka cukuplah mendapat kesenangan sebagai gantinya. Jika bukan kejengkelan.


Lalu untuk apa deretan hadiah berharga yang disimpan di barisan paling belakang dan jika diukur besar bendanya sama persis dengan diameter gelang bahkan lebih besar tersebut? Tentu semua orang tahu bahwa itu hanya untuk memikat para pelempar. Mungkin saja itu bisa didapat, namun untuk mendapatkannya selain sulit ketiga faktor di atas mutlak dibutuhkan.

***

Pilkada DKI kali ini ibarat permainan lempar gelang. Dengan banyaknya calon yang bisa dibilang sama rata dari sisi kualitas dan elektabilitas, maka pemenangnya memerlukan keberuntungan, akurasi yang mumpuni dari tim suksesnya, dan tentu saja kesabaran.

Untuk memperebutkan kursi DKI-1 tidak lagi seperti Pilkada lalu yang hanya menyediakan dua calon dimana satu calon didukung gerombolan parpol dan yang satu hanya mengandalkan militansi kader satu parpol yang sedang naik daun. Kini, tak ada parpol favorit karena sebagian besar warga Jakarta tahu belaka belang parpol. Jikapun ada tokoh favorit, maka faktor parpol pendukungnya bisa saja menjadikannya salah satu yang merugi.

Ada memang yang dengan keberanian penuh mendaftar tanpa sokongan parpol. Namun semua paham belaka bahwa sudah sejak awal aturan siap menjegalnya. Jikapun mereka lolos verifikasi, mesin kampanyenya tentu saja masih tidak segahar parpol. Yang paling menentukan adalah adanya skeptisisme warga bahwa semua calon buruk belaka. Ironisnya, karena parpol biasa melakukan politik transaksional, maka mereka kemudian diuntungkan dengan situasi tersebut. Dana melimpah akan memuluskan langkah ini. Calon independepun layaknya pelempar gelang, paling-paling cuma bisa mendapatkan hadiah pali murah. Botol minuman.

Para kandidat yang memiliki dukungan merata sesungguhnya mirip dengan gelang yang dilemparkan dalam permainan di atas. Kesempatan mereka memenangkan kursi DKI-1 relatif sulit dan berliku. Sangat mungkin terjadi minimal dua kali putaran dalam Pilkada Ibukota kali ini. Mirip dengan lempar gelang, sangat susah dalam sekali lempar langsung mendapatkan hadiah. Apalagi hadiah yang sangat bernilai.

Pada akhirnya, modal dan mesin politik yang solid yang akan menentukan. Kedepan taburan rupiah pasti akan membayangi setiap wajah pemilih mulai dari nominal puluhan ribu hingga entah berapa nilainya. Para pelobi juga akan hilir mudik di rumah-rumah kyai, sesepuh, tokoh masyarakat, pengusaha, hingga preman. Tak sesederhana melempar gelang tentunya yang hanya membutuhkan kesabaran dan beberapa ratus ribu jika memang pelempar sudah begitu mencandu.

Bagaimanapun, perebutan kursi Gubernur Jakarta kali ini menarik dan rumit. Menarik karena ada figur yang sudah dimaki tapi tetap percaya diri membangun Jakarta, ada juga yang terkait korupsi tapi justru bangga karena dengan namanya dicatut maka ia dikenal pemilih. Jangan lupakan juga orang-orang populer karena berhasil membangun daerahnya namun diremehkan lawan politik karena anak daerah. Sebuah tindakan yang lucu mengingat yang melecehkan juga anak daerah yang dimaki dan dibenci.

Sebagaimana permainan melempar botol, maka hanya tinggal satu yang harus diraih para calon gubernur yang sebagian besar maruk kuasa ini. Keberuntungan! Uang berlimpah, pelobi handal, latar belakang yang teruji juga tak akan mampu menandingi faktor yang satu ini. Di tengah ketidakpercayaan yang kian meningkat terhadap pemerintah dan parpol, maka sulit rasanya menyandarkan para kandidat melaju dengan mulus.

Target yang besar sebagaimana ponsel seluler dalam permainan lempar gelang bukan mustahil untuk diraih. Karena politik tentu banyak seluk-beluk yang sulit dijangkau akal kaum biasa maka yang tak mungkin bisa dengan mudah direalisasikan. Pastinya pelempar gelang sangat beda dengan para kandidat. Karena candu melempar gelang takkan merugikan siapapun, beda dengan candu kekuasaan. Efek terdekat dari candu teakhir adalah, bersiaplah untuk menelusuri Jakarta dengan kemacetan yang kian ruwet dan frekuensinya makin sering.

Selamat bermacet ria!

0 comments: