Berebut Capres di Socmed

Beberapa waktu ini, semua orang baik sadar atau tak sadar telah terhanyut dalam timangan pesta demokrasi lima tahunan di Indonesia. Memilih capres!

Saat capres-cawapres sudah dideklarasikan dan disahkan oleh KPU, makin ramailah suasana kampanye. Semua kampanye baik yang bersifat membangun maupun negatif riuh-rendah terutama di saluran yang sekarang sedang naik daun, sosial media.

Bagi saya pribadi, kegaduhan yang terjadi di sosial media memberi sebuah harapan baru bagi kita semua. Bahwa kita sebagai warga biasa yang bisa mengakses langsung saluran informasi untuk berbagi kepada sesama. Sebab selama ini, saluran informasi biasanya sulit ditembus oleh warga biasa.

Meski patut diapresiasi, saluran informasi dari sosial media tentu perlu juga diperhatikan. Karena bersifat bebas, maka filter yang dibutuhkan tentu harus sangatlah ketat. Ironisnya, filter tersebut sangat tergantung pada pemahaman dan kedewasaan kita. Berbeda dengan media mainstream yang sudah memiliki payung hukum dan norma-norma yang jelas.

Dalam kampanye pemilihan presiden kali ini pun, banyak informasi yang bertebaran dengan bebas di media sosial. Para pemilik akun dengan bebasnya mengobral informasi mulai yang berbasis fakta maupun sebatas ilusi semata. Pada akhirnya, informasi yang berseliweran sangat susah dikonfirmasi kebenaran. Kembali lagi, filter sangat tergantung kepada kita.

Tampaknya, kebebasan berpendapat di dunia maya telah berkembang sedemikian bebas hingga membuat saluran ini sedikit demi sedikit hendak dibatasi. Hal ini dimulai salah satunya dengan kemungkinan sebuah akun bisa dituntut pidana jika yang disebarkannya bersifat fitnah. Sebuah kemajuan dari sisi hukum, meski berbagai pihak merasa bahwa hal ini justru bisa memberangus demokrasi negeri ini.

Ddalam pilpres kali ini, sosial media tampaknya dimanfaatkan sebesar mungkin oleh para simpatisan. Banyak akun, baik lama maupun baru, mengupas kelayakan capres-cawapres pilihan sekaligus menelanjangi hal-hal negatif capres-cawapres lawan. Maka, peperangan opini yang berkobar berpindah dari darat ke dunia maya. Meski cenderung bersifat brutal karena tanpa filter, namun justru vulgarnya informasi yang diumbar justru makin mendewasakan masyarakat dalam menentukan pilihan. Tentu saja, masyarakat dituntut mampu menyaring semua informasi di atas dengan bijak.

So, sudahkah Anda memfilter info yang berseliweran di akun sosial media Anda?





Jokowi, Prabowo, dan Para Cukong

Sejak saya kecil, orang kaya dipandang sebagai makhluk mengawang yang susah dijangkau. Dalam diri para pemilik modal tersebut, melekat aneka keistimewaan yang sayangnya makin menjauhkan mereka dari jangkauan. Ketika berhadapan dengan orang kaya, kalimat yang selalu dibisikan adalah "Jangan macam-macam!"

Orang kaya dengan segala kemampuannya, dianggap sebagai salah satu penentu dari berjalannya kehidupan. Kekuatan modal mereka adalah kekuatan tak terperi dalam menata kepentingan. Sayangnya, kebanyakan dari kita mengklaim semakin kaya seseorang maka semakin banyak sifat dan sikap negatif yang melekat. Tak usah heran jika kaum miskin seperti kita akan bermimpi kaya sembari menyebarkan kebaikan. Sesuatu yang mungkin saja mimpi awal kaum kaya.

Saking negatifnya kaum berduit di mata masyarakat, banyak kisah rakyat yang mengarah pada kekuatan pahlawan yang menghukum mereka yang kaya dan membela yang miskin. Tengok saja betapa kita sulit lupa dan memimpikan kembalinya kisah Robin Hood atau di negeri ini ada aneka kisah tentang Maling Budiman. Semua bermuara pada satu hal, orang kaya adalah makhluk yang sulit berbagi sehingga memerlukan tokoh pendobrak agar harta mereka bisa didistribusikan kepada yang membutuhkan.

Dewasa ini orang kaya, konglomerat, cukong, atau pemilik modal kembali riuh-rendah dibicarakan di media sosial. Mereka, terutama yang dicap hitam, dituding jadi pengendali Jokowi sehingga tokoh yang populer ini wajib ditolak. Dan kubu Prabowo yang mengklaim tidak dikendalikan konglomerat manapun kemudian mencapnya sebagai, meski kebanyakan lewat puisi, boneka.

Kenapa konglomerat begitu susah diterima saat mereka "bederma" dalam gelaran politik? Sebab alam bawah sadar kita sudah menyetujui bahwa konglomerat lebih banyak memiliki kekuatan negatif daripada positif. Mereka adalah kelompok manusia yang tidak akan membiarkan bahkan sebutir nasi pun untuk jatuh percuma tanpa memberikan keuntungan. Maka, kita dengan segenap kepatuhan logika kemudian mengiyakan bahwa bahaya semata yang akan timbul jika seorang calon didukung oleh konglomerat, apalagi yang dikelompokkan konglomerat hitam alias cukong hitam.

Sebagai orang awam, saya sendiri tidak terlalu peduli dengan isu konglomerat yang ada di belakang salah satu calon. Karena bagi saya, semua calon pada dasarnya langsung atau tidak memerlukan dukungan finansial dari para cukong. Bagi saya, Prabowo logis saja saat dengan gagah berani menyatakan dirinya tidak didukung konglomerat. Karena pada dasarnya ia adalah konglomerat itu sendiri, atau setidak-tidaknya berasal dari keluarga konglomerat. Bukankah tidak mungkin seorang prajurit sejati, bisa bangun rumah dengan luas "segambreng" lengkap dengan pasukan penjaga dan kuda-kuda kesayangan. Adalah mustahil juga jika seseorang yang bukan konglomerat mampu dudukkan kolega dan keluarga di Senayan dengan modal milyaran rupiah.

Jadi, kini pilihannya makin sulit bukan? Jika benar Jokowi dikendalikan konglomerat maka pertarungan capres kali ini tetap antarkonglomerat bukan? Jika antarcukong sudah bertempur, maka yang direbutkan apalagi kalau bukan sumber-sumber uang?

"Raisopopo" atau Bisa Apa Saja?

Terdengar sajak nyinyir dari tetanggaku penggemar fanatik burung perkasa. Sajaknya lugas dan tak perlu belajar sastra untuk mengungkap maknanya. Tapi penggubahnya bisa berlindung dibalik fiksi untuk menghindarkan dari sebutan pembuat fitnah.

Selanjutnya, sajak puisi berhamburan dari lubuk petinggi partai yang frustasi karena merasa dikhianati. Tetanggaku yang sebelumnya tak doyan puisi tiba-tiba setiap hari memuisikan segala kejadian. Maka, muncullah sebutan "rabisopopo" dan kemudian "pasukan nasi bungkus".

Karena kampungku hanya "selebar daun kelor" maka perilaku tetanggaku kemudian dikategorikan perilaku meresahkan. Bagaimanapun, menunjuk setiap orang yang yang tidak sesuai dengan kita lewat sajak kurang fair rasanya. Sebab saat dikonfirmasi, pembuat sajak dengan mudahnya berkata, "Inikan fiksi semata,".

Lalu, tersebutlah Begaawan Jeje, juru damai kampung, punya inisiatif mendinginkan suasana. "Apa yang sebenarnya kalian ributkan?" ujar Sang Begawan teduh pada masyarakat kampung yang berkumpul di pendopo desa.

"Aku hanya tak ingin, orang-orang terlena dengan si "Raisopopo", mau dibawa ke mana negeri kita nan kaya ini?" ujar tetanggaku memulai pembicaraan sebab merasa dialah biang keladi dikumpulkannya warga kampung.

"Lha, emangnya si pencetus "Raisopopo" itu bisa apa?" timpal tetanggaku yang berprofesi sebagai petani.

"Dia bisa apa saja yang dibutuhkan negeri untuk maju. Nasionalisme tinggi, kekayaan melimpah, koneksi hingga ke ujung jagad, dan ketegasa tiada dua." ujar tetanggaku penggemar burung raksasa.

"Bisa segalanya ya? Termasuk menghilangkan nyawa manusia." ujar si petani sinis.

"Sudahlah, sudah. Tak ada guna kita bertengkar demi merebutkan siapa yang pas menduduki tahta di negeri ini." Begawan kembali menyejukkan suasana.

Sang Begawan kemudian menjelaskan bahwa pemimpin memang sebaiknya memiliki kemampuan untuk memimpin. "Raisopopo" memang perlu dipertanyakan, sebab memimpin sebuah negara tentunya wajib punya kemampuan. Tapi, memangnya benar yang dijuluki "Raisopopo" benar-benar tidak mampu berbuat apa-apa?

Yang wajib diketahui juga, Begawan kembali menjelaskan, yang menjuluki "Raisopopo" belum tentu juga bisa apa saja. Yang saya tahu, rakyat negeri ini sudah terlampau sering dikecewakan orang-orang yang mengaku bisa melakukan apa saja. Tak terhitung mereka yang bergelar profesor toh ternyata berlaku hianat. Begitu juga mereka yang dinobatkan sebagai orang saleh oleh pengikutnya toh jauh dari amanah. Jadi, jangan salahkan si "Raisopopo" yang punya banyak penggemar.

"Betul itu, Begawan. Bukankah si pencetus "Raisopopo" sudah terbukti menghilangkan nyawa orang. Bahkan hingga kini Beliau dicekal oleh sebuah negara adidaya. Aku ini petani, dan katanya asosiasiku diketuai oleh Beliau. Memangnya ada perubahan pada petani?" ujar tetanggaku yang petani berapi-api.

Lalu tetanggaku yang petani kemudian menceritakan bagaimana mungkin seorang yang katanya prihatin dengan nasib petani tapi bangun rumah di atas tanah yang bisa digarap ratusan petani. Bagaimana mungkin teriak kesejahteraan rakyat yang merosot dari atas kuda yang nilainya milyaran. 

Tetanggaku penggemar burung raksasa langsung bereaksi keras. "Justru itulah kelebihan Beliau. Beliau sudah tidak kekurangan apa-apa sehingga bisa fokus urus negara tanpa harus korupsi. Bayangkan jika "Raisopopo" jadi penghuni tahta, ia akan tetap jadi pesuruh karena mentalnya memang pesuruh." 

Perdebatan tentang kekurangan dan kelebihan pemimpin pujaan terus berlangsung bahkan tak bisa dihentikan oleh Begawan Jeje sekalipun. Perdebatan baru berhenti saat perut tak kuat lagi menahan lapar. Karena kebetulan dana kampung menipis, maka sajian hari itu cuma singkong rebus berteman teh tanpa gula.

"Hanya inikah sajian untuk kumpul-kumpul hari ini." tanya seorang warga yang sehari-hari bekerja sebagai pengojek.

"Ya, hanya ini. Sayangnya para caleg kemarin sudah meminta kembali uang yang mereka tabur untuk kampung kita. Sebab tak seorangpun yang memenuhi target melenggang duduk di kursi dewan." ujar ketua kampung.

"Termasuk dari partai yang kalian berdua berfanatik." ujar ketua kampung kepada kedua tetanggaku.

Dan semua terdiam, sambil menikmati suguhan sederhana tersebut. Terbayang di mata mereka apakah si "Rapopo" dan pencetus "Raisopopo" akan mampu memberi mereka suguhan yang lebih baik tanpa meminta imbalan.


Bincang Politik ala Geholic

Sebuah pernyataan lantang diucapkan kawanku menyongsong hasil hitung cepat pemilihan umum legislatif kemarin. "Biarpun sedikit pemilihnya, tapi kami berjuang dalam kebenaran," ucap Ngeyo.

"Memangnya kenapa kau yakin kalau partaimu berjuang untuk kebenaran?" kataku heran bin bingung.

"Sebabnya cuma satu, karena partaiku berazas Islam dan memperjuangkan hukum Islam tegak di bumi pertiwi," ujar Ngeyo makin lantang.

Sementara Ngeyo sedang bersenandung penuh semangat tentang visi misi partainya yang menjamin kehidupan dunia dan akhirat, muncullah Jabang yang terkenal punya kehidupan mengalir dalam berpartai. Bagi Jabang, semua partai sama, pada akhirnya memerebutkan kuasa semata. Bahwa jargon yang dibawa macam-macam, juga bukan hal istimewa. Sama seperti pria yang mau menggaet perempuan, aneka cara dan rayuan ditebar, toh intinya cuma satu. Kawin!

"Hey, Ngeyo. Kalau benar partaimu membela kebenaran, kenapa juga mereka merengek seperti bayi meminta jatah kuasa?" ujar Jabang tanpa beban.

"Karena dengan berkuasa maka partai kami akan mampu mengawal bangsa lebih baik. Bagaimanapun, negeri butuh orang-orang baik dan beriman demi menggapai ridho Tuhan," sahut Ngeyo berapi-api.

"Terserah kamulah. Yang penting, mana janji caleg jagoanmu. Katanya kalau dia jadi mau memberi tambahan dana buat aku?" tagih Jabang akhirnya.

"Justru kamulah yang harus mengembalikan uang caleg partai kami. Kamu janji akan membawa seratus suara. Nyatanya hanya sepuluh saja mampu kau persembahkan. Terlalu!" Ngeyo ketus.

"Sejak kapan perjuangan demi kebenaran hitung-hitungan? Kalau sudah memberi ya tidak bisa diambil lagi. Memangnya aku kredit?" Jabang jengkel lalu pulang ke rumah.

Aku yang sejak tadi bingung semakin tak kuasa menahan beratnya beban otak untuk berpikir. Seperti inikah politik?

"Tak usah bingung kawan, gabung saja dengan partaiku. Niscaya hidupmu akan lebih tenang." Ngeyo promosi.

Aku yang makin bingung langsung pamit dan ngeloyor pergi. Kebetulan aku harus mengantar makanan buat ayahku yang sedang mengarit ladang.



Pendidikan Indonesia: Ibuku, Kawanku, dan Lena

Hari ini, 14 Mei 2014 seluruh siswa SMA dan sederajat berjibaku menaklukkan soal-soal UN. Kumpulan soal yang menentukan sejauh mana kaki melangkah. Sejatinya, sesulit apapun UN, menurut pengalamanku, selalu ada tangan-tangan ajaib memberi pertolongan.

Mari sejenak berdoa semoga pertolongan yang datang kepada junior-junior kita tidak lantas mengurangi legalitas kelulusan mereka. Mari juga kita refleksikan diri sejenak tentang kisah yang belum mampu kita pupuskan dari bumi Ibu Pertiwi ini.
***
 Adalah almarhum ibuku yang terpaksa menghentikan langkah di sekolah dasar demi menggantikan peran nenekku almarhum menjaga para bibi dan pamanku. Sebuah keputusan yang wajib diikuti sebab melawan orangtua adalah durhaka. Selain itu, tuntutan hidup memaksa nenekku harus berdagang keliling kampung-kampung yang cukup jauh sehingga memangkas waktu untuk mengasuh anak-anaknya yang kecil. Maka, ibuku almarhumlah yang menyediakan waktunya untuk menggantikan peran nenekku. Sekolah? Ah, perempuan toh pada akhirnya hanya perlu patuh pada suami untuk meraih surga.

Pengalaman ibuku tentu saja sudah lama sekali. Pilunya putus sekolah demi menggantikan peran ibu terjadi pada dua dekade setelah kemerdekaan Indonesia diraih. Sebuah kenyataan yang banyak dimaklumi oleh semua penduduk negeri, sebab negeri masih muda. Sayangnya, saat aku sekolah dasar, kejadian serupa hampir menimpa kawan sebangkuku.

Meski seorang lelaki, kawan sebangkuku wajib menggantikan peran bundanya mengasuh anak-anak. Sang ibunda sendiri sering sekali terpaksa menggarap ladang dan sawah sebab sang suami tercinta harus merantau demi rupiah. Maka, kawan sebangkuku berulang kali harus bolos sekolah demi menjaga adiknya. Beruntung, rutinitas bolos tersebut tak lantas merenggutnya dari bangku sekolah. Kami masih bisa lulus bersama-sama dan sesekali bersua saat lebaran tiba.

Kejadian kawan sebangkuku menjelang peralihan abad-20. Tak lama setelahnya, reformasi bergelora di seantero negeri. Pastinya, harapan kami dan orangtua kami hampir sama. Tak perlu lagi ada yang senasib dengan ibuku dan kawanku.
***
Tahun 2014 ini banyak doa dan harapan tertumpah demi kemajuan negara. Para wakil rakyat kembali melakukan ritual pemilu demi meraih atau mempertahan kursi. Partai politik sibuk berorasi dan menebar jani, sambil sesekali jilat ludah sendiri.

Nun di Banyumas sana, adalah Lena yang ternyata harus seperti ibuku almarhum. Kejadian yang sama ini terpaut hampir setengah abad lamanya. Masalahnya sama, keharusan memenuhi kebutuhan keluarga sehingga sang bunda tiada waktu mengurus adik-adiknya. Lena mengikhlaskan diri menggantikan peran ibu mengasuh dan mengurus keperluan keluarga. Sejak pagi ia harus memandikan adik-adiknya, memasak untuk sekeluarga, mencuci dan sebagainya. Padahal, usianya baru 13 tahun!

Jika di Banyumas yang notabene dekat dengan pusat kekuasaan terjadi hal seperti ini, bagaimanakah nasib anak-anak negeri ini di pelosok sana? Semoga kita tidak terlalu lama lena dalam pesta bagi-bagi kuasa hingga akhirnya benar-benar bekerja untuk menghapuskan nasib buruk Lena. 

Amin.