Menjawab Kang Hermawan Aksan: Apakah Mengkritisi Orang Lain Jalan Lain untuk Bunuh Diri?

12:20:00 PM Unknown 0 Comments

Sejak beberapa waktu belakangan ini, mengkritisi para pejabat semakin sulit. Bukan karena kebebasan berbicara yang diredam, bukan itu masalahnya! Namun geliat para pendukung yang membabi-buta menyerang siapapun yang mengkritisi yang jadi akar masalah.

Mereka akan membela para junjungan mereka dengan kalimat sakti, “Bisanya hanya kritik, memang kamu mampu?”. Awalnya, pola pikir ini bisa  saya terima, meski sebenarnya membunuh nalar kita sebagai rakyat. Ya, memang mungkin kita tak mampu seperti mereka yang kita kritisi. Namun setidaknya, kita tidak mencalonkan diri menjadi pejabat sambil umbar janji.

Para pendukung seharusnya paham bahwa mereka yang mengucapkan aneka janji saat merayu rakyat untuk memilih adalah pihak tertagih yang bisa dimintai pertanggungjawaban kapan pun. Selama janji belum terlaksana, siapapun yang pernah memilih atau bahkan tidak memilihnya berhak menagih. Dengan nalar “memangnya kamu mampu”, maka pemberangusan kritik secara tak sadar sedang dibangun dalam alam bawah sadar kita. 

Ke depan, para pejabat yang tak mampu menunaikan janjinya akan dengan mudah mengingkari dengan balik bertanya, “memangnya kamu mampu?”. Jika nalar “memangnya kamu mampu” sudah jadi budaya, jangan harap mental pejabat akan normal saat berbuat kesalahan. Kredo “memangnya kamu mampu” akan langsung terucap tatkala ada pihak-pihak – terutama rakyat kecil – meminta pejabat yang bersangkutan mundur. 

Merambah ke Dunia Seni?

Dalam jagad sepak bola, para komentator yang menghabiskan masa mudanya sebagai pesohor lapangan hijau tentu sangat minim. Mereka yang waktu mudanya meliuk-liuk di lapangan sambil berebut bola kebanyakan menjadi pelatih. Maka, jangan heran jika para komentator yang kadang menguliti strategi tim-tim kesangan kita dengan kata-kata pedas adalah mereka yang bukan dari kalangan sepak bola. Demikian juga dengan jurnalis.

Pertanyaannya, apakah karena mereka bukan pemain top – bahkan banyak yang tidak pernah menjadi pemain bola profesional sama sekali – tidak bisa diterima segala kritiknya akan strategi sebuah tim sepak bola? Banyak para pundit dan jurnalis olahraga yang ciamik menguliti kedalaman sebuah tim tanpa terlibat dengan olahraga yang dikulitinya. 

Dalam dunia seni, kritikus juga banyak yang tidak bergelut di bidang yang dikritiknya. Yang penting si kritikus memiliki wawasan yang memadai mengenai ilmu-ilmu yang berkaitan dengan karya seni yang dikritisinya. Sayangnya, di negara ini sebauh kritik apalagi yang disampaikan langsung sering kali tak dihargai, bahkan dimaki. Konon, pendidikan di negeri ini adalah pangkal musababnya.

Saya teringat waktu semester awal kuliah di Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di UNJ hampir satu dekade lalu. Saat itu, setiap mahasiswa diberi kesempatan untuk menilai bagaimana Pram dan karyanya yang fenomenal, Bumi Manusia. Saat itu, saya sendiri tahu Pram namun tidak begitu detail. Saya ingat pendapat saya tentang Pramoedya Ananta Toer ini dengan mengatakan bahwa idealismenya dia adalah idealisme di atas kertas. 

Apakah sang dosen membantah argumen dangkal saya waktu itu? Tidak sama sekali, meski tentu saja dia tahu pendapat saya terlalu ceroboh karena didasari ketidaktahuan saya mengenai diri Pram. Dia hanya menjawab, “Mungkin kamu benar dia idealis di atas kertas, sebab memang dia jarang bergaul dengan masyarakat. Bukankah ia dipenjara hampir sepanjang hidupnya?”. 

Ingatan saya lainnya adalah ketika bertandang ke TIM menemui Jose Rizal Manua yang kala itu baru pulang dari luar negeri dengan menyabet aneka penghargaan terkait kegiatannya mengembangkan teater anak-anak. Pertanyaan yang saya lontarkan adalah, “Kenapa seniman begitu sulit dipahami oleh kami yang awam. Apakah karena mereka memiliki ide yang lebih maju daripada kami?”. Dengan santun Beliau menjawab, “Mungkin justru kami yang salah, yang tidak bisa menyediakan apa yang dibutuhkan masyarakat. Mungkin kami yang terlalu sempit pergaulan, hanya sesama seniman, sehingga gagap dengan dunia sesungguhnya, dunia masyarakat.”

Apa poin utama dari kedua cerita yang saya alami di atas? Menurut saya mereka berdua tidak mencoba menjatuhkan saya dengan kecerobohan dan pandangan saya akan dunia sastra atau seni. Saya yang bukan siapa-siapa dan tentu saja masih bodoh – kalau yang ini hingga kini masih – dibimbing dengan baik agar tidak jatuh dalam kesimpulan salah tanpa membuat harga diri saya jatuh.

Dari semua tulisan ini, saya hanya ingin menanggapi status salah seorang sastrawan yang begitu menghargai kritikan setiap orang. Meski yang mengkritiknya bukan seseorang yang punya karya. Semoga, saat saya berusaha mengapresiasi – tak berani mengkritisi – saya tak lantas disemprot dengan kalimat, “emang kamu mampu” atau “mana karyamu”.  Lalu diposting di dunia maya dan panen bullyan dari para pendukungnya. 

Semoga ...

0 comments: