Heboh LGBT, Cerminan Masyarakat Kepo Selangkangan

10:08:00 AM Unknown 0 Comments

Beberapa bulan terakhir, kisruh abadi antara syiah dan sunni tetiba menghilang berganti dengan saling nyinyir antara pro hak-hak LGBT dan penentangnya. Aneka argumen mulai dari sains hingga keyakinan diumbar ke publik. Sungguh luar biasa, urusan selangkangan bisa semeriah ini menyedot energi bangsa.

Sebelum ikut meramaikan khasanah perselangkangan LGBT di Indonesia, ada baiknya menengok dulu sekitaran sepuluh hingga dua puluh tahun lalu di Gehol. Desa tempatku lahir tersebut mungkin lebih maju dalam urusan selangkangan terkait LGBT ini.

Apakah di desaku ada LGBT, tentu saja ada meski tidak terang-terangan. Namun, mereka yang berbeda tampilan atau biasa kita sebut banci tentu ada dan tak perlu malu mengakuinya. Semua penduduk maklum belaka akan keadaannya. Tidak ada yang memaksanya harus menjadi laki-laki dengan alasan dibenci Tuhan dan sebagainya. Kena bully iya, namun siapa sih di dunia ini yang tidak pernah terkena bully?

Apakah masyarakat Gehol kemudian menjadikan si banci sebagai bahan menyebarkan kebaikan Tuhan? Setahuku tidak, pengajian yang digelar memang sesekali menyinggung tentang azab Allah SWT kepada kaum-kaum yang menyimpang. Tapi bukan hanya kaum Nabi Luth yang sering jadi bahan pelajaran, bagaimana kejahatan Firaun dan tamaknya Karun juga sering jadi bahan ajar pengajian. Seingatky, kelaliman dan keserakahan dua contoh terakhir lebih sering diperdengarkan. 

Melihat masyarakat Gehol yang cenderung lembut kepada penderita LGBT apakah membuat golongan ini merajalela? Berkali-kali pulang kampung, yang banci tidak bertambah dan orangnya tetao itu-itu juga. Yang gay dan lesbian? Entahlah apakah ada atau tiada. Yang jelas, tinggal satu dua kawan sepermainanku yang belum menikah. Apakah mereka memiliki preferensi seks berbeda dari umumnya masyarakat? Yang kutahu faktor uang, penampilan, dan pilih-pilih pasangan adalah alasan utama kenapa masih sendiri.

Maka aku heran bagaimana media sosial begitu menggebu menghakimi kaum LGBT. Aku juga takjub tatkala kelompok LGBT dan mereka yang mendeklarasikan diri pembela begitu getol mengatakan banyaknya pelanggaran HAM. Bagiku, kehebohan ini adalah cerminan masyarakat yang terlalu lebay mengurusi selangkangan orang lain.

Wahai para pencaci LGBT, apakah dengan tampilnya para pemilik orientasi seksual tidak umum ini akan meruntuhkan peradaban dunia? Hal tersebut tentu saja masih jauh dari kebenaran. Jikalau masalah populasi yang akan menurun dengan tampilnya kaum LGBT dirisaukan, bukti-bukti imliahnya masihlah sangat minim. Setahuku, hanya Jepang yang statistik demografinya berupa piramida terbalik. Konon, masalah ekonomi menjadi momok bagi para penduduk Negeri Matahari Terbit ini sehingga mereka takut beranak-pinak. 

Lalu kepada kalian pembela LGBT, apakah ada hak-hak dari kalian yang diabaikan pemerintah dan diinjak-injak masyarakat NKRI? Setahuku tidak ada bidang kehidupan pun di negara ini yang menyatakan larangan untuk dimasuki kaum LGBT. Apakah administrasi pemerintahan menghalangi kaum LGBT? Belum pernah dengar berita semacam itu. Apakah pesantren, masjid, gereja, dan tempat ibadah lainnya menolak kehadiran ummatnya yang berbeda ini? Tak pernah ada yang bercerita demikian. Mungkin mereka rentan bully, ya itu memang benar. Tapi, di dunia ini siapa sih yang tak pernah di bully.

Jadi, kesimpulanku tetap sama bahwa ini adalah reaksi lebay para pembela hak dan pencaci LGBT. Tak ada niat untuk menyembuhkan dari para pencaci, pun dari pendukung. Yang ada hanyalah ajang adu argumen dan adu eksistensi. Bukankah sosial media adalah ladang sempurna untuk hal ini?

0 comments: