Ketika Sandiwara Radio Berjaya

4:37:00 PM Unknown 2 Comments


Radio

Radio mungkin adalah satu-satunya media yang mampu beradaptasi dengan kemajuan teknologi. Saat televisi dan internet menggempur, eksistensi radio tetap ada meski penggemarnya mulai tergerus.

Gehol sebagai sebuah peradaban tentu saja akrab dengan radio. Apalagi di masa-masa ketika televisi masih menjadi barang mahal dan hiburan lainnya hanya datang di saat-saat tertentu. Radio dengan kemampuannya menyajikan hiburan murah mampu mengambil hati warga Gehol yang minim hiburan.

Masih segar dalam ingatan saat sore hari sesudah Ashar dan menjelang Maghrib warga Gehol, terutama ibu-ibu, berkumpul di halaman rumah masing-masing. Mereka berbaris membentuk “kereta api” dengan yang paling tua berada pada jajaran paling depan. Barisan “kereta api” tersebut adalah aktivitas membersihkan rambut dari binatang kutu, ketombe, hingga uban.

Tak jauh dari barisan perempuan yang saling menyiangi rambut adalah benda yang dengan begitu setia memberikan hiburan lagu dan dongeng selama keluarga tersebut memiliki batu baterai. Radio!

Yang ditunggu dengan sabar oleh para ibu-ibu dan bapak-bapak serta anak-anaknya sembari sesekali membicarakan gossip, masa tanam, tips-tips menaklukkan lelaki, hingga masakan apa yang seharusnya dihidangkan esok pagi, adalah cerita mengenai keagungan masa lalu yang dibungkus dengan drama. Sandiwara radio. Sederet judul masih terekam di benakku, Tutur Tinular, Nini Pelet, Saur Sepuh, hingga Babad Tanah Leluhur.

Sederet tokohpun jadi idola anak-anak kampung Gehol. Lucunya, bukan pengisi suaranya yang telah bersusah payah menghidupkan karakter tokoh yang dimainkan. Yang jadi idola kami, anak-anak Gehol tentu saja sang tokoh dalam sandiwara itu sendiri. Kamandanu, dan Brama Kumbara adalah impian kami. Tak peduli seperti apa pengisi suaranya.

Tentu saja, tokoh-tokoh jahat adalah sebutan untuk karakter warga desa yang menurut kami cocok dengan tokoh sandiwara tersebut. Mak Lampir tentu saja untuk perempuan yang marah-marah sudah mendarah daging dalam perilakunya. Tong Bajil adalah tokoh super jahat lawan Kamandanu. Jadi jika aku Kamandanu, maka siapapun yang bermain melawanku adalah Tong Bajil. Tak jarang rebutan tokoh lebih sering berujung perkelahian daripada saling menurut.

Saking melekatnya sandiwara radio dalam kehidupan kami, di sekolah, madrasah, dan mesjid, yang kami mainkan adalah sisilatan. Sisilatan sendiri adalah istilah kami menyebut adegan perkelahian dalam sandiwara. Arti dari sisilatan adalah bermain silat pura-pura. Meski pada praktiknya ada juga yang menangis dan terluka sungguhan. Tapi begitulah anak-anak, menghayati peran tokoh sandiwara radio adalah kenikmatan tersendiri yang sukar ditandingi.

Maka tak heran jika selama istirahat sekolah, dan mengaji keluarlah umpatan-umpatan khas tokoh sandiwara. Tak lupa, jurus-jurus andalanpun dikeluarkan demi mempercepat menaklukkan musuh. Saipi Angin adalah ilmu yang wajib dimiliki, sebab kalau sudah lelah dan tak kuasa menahan gempuran kawan bermain, maka berlari adalah tindakan alamiah paling masuk akal dan paling sering dilakukan.

Hari-hari kami menikmati radio dengan sandiwaranya perlahan menurun seiring datangnya keajaiban lain dalam hidup kami. TV.

Kini, sekitar 20-an tahun dari masa jaya sandiwara radio, bentuk radiopun telah entah berapa kali mengalami perubahan. Tetap mampu siaran meski dikepung teknologi hiburan aneka rupa.

2 comments:

  1. tidak hany aneka hiburan, eknologi informasi yang kian canggih sekarnang ini..

    Revolusi Galau

    ReplyDelete
  2. betul gan, hebatnya radio tetep eksis ...

    ReplyDelete