Lihat Terobosan Prosedur Pembuatan PT di Sini


Selama ini, prosedur pembuatan PT atau perusahaan merupakan momok bagi sebagian orang. Selain dianggap berbiaya mahal, prosesnya juga memakan waktu lama. Bobrok dan rumitnya birokrasi dianggap sebagai biang kerok munculnya anggapan negatif tersebut.

Untuk melunturkan persepsi tersebut memang tidak mudah. Namun, pemerintah tidak tinggal diam menghadapinya. Beberapa langkah telah ditempuh agar para pelaku usaha lebih mudah menginvestasikan modal di Indonesia. Sebagai barometer, Jakarta bisa dijadikan tolok ukur untuk masalah yang satu ini.

Beberapa hal yang mengalami perubahan yang signifikan dalam proses pembuatan PT atau perusahaan adalah pengajuan NPWP Badan, SKDP, proses SIUP dan TDP. Semua persyaratan untuk dokumen-dokumen tersebut ternyata memang dipermudah.

Sebenarnya, bukan hanya Jakarta yang harusnya mengalami kemudahan proses pembuatan perusahaan. Sebab, pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang menaungi kemudahan pelaksanaan berusaha yang berlaku seluruh Indonesia. Sebagaimana kita tahu, aturan untuk mempercepat pelaksanaan perusahaan tersebut salah satunya dalah Perpres No. 91 Tahun 2017 Tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha.

Ini merupakan serangkaian kebijakan pemerintah untuk mempermudah para pelaku usaha dalam berinvestasi. Dalam perpres ini, kementrian/lembaga dan pemerintah daerah dalam memulai, melaksanakan, dan mengembangkan kegiatan usaha ditata kembali agar menjadi pendukung, bukan penghambat kegiatan usaha. Termasuk menerapkan teknologi informasi online dalam pelaksanaan perizinan berusaha.

Penggunaan sistem online ini kemudian membuat pengajuan manual tidak lagi digunakan. Ini tentu saja kabar baik mengingat prosedur pembuatan PT meminimalisir persekongkolan. Hal ini masuk akal mengingat tidak ada lagi ruang untuk pertemuan langsung antara pelaku usaha dan birokrat pemberi izin. Sebagaimana kita tahu, pertemuan kedua belah pihak ini memungkinkan terjadinya kesepakatan di bawah meja.

Kita semua sudah paham bahwa masalah korupsi merupakan salah satu akar kenapa pelayanan publik oleh birokrat kita memiliki banyak rintangan. Karena itu, munculnya peraturan ini bukan juga diharapkan bisa mengubah pola pikir semua pihak. Jika selama ini masyarakat berpikir bahwa prosedur pembuatan PT atau perusahaan harus menyuap  pemberi izin alias birokrat.  Demikian juga oknum pemerintah diharapkan tidak lagi memiliki moto “jika bisa susah kenapa harus digampangkan”.

Bagaimana dengan pengalamanmu dalam proses pembuatan PT selama ini? Sudahkah melalui online atau masih harus wara-wiri ke instansi terkait?

Perlu “Lokomotif Segar” Agar Mampu Membawa “Gerbong Indonesia” Melesat


Di tengah data-data tentang “bahan bakar” Indonesia yang positif, banyak fakta meresahkan yang membuat laju negara ini susah melejit. Salah satu bahan bakar positif itu adalah jumlah milenial yang melimpah.

Berdasarkan data dari Kompas.com, penduduk Indonesia terdiri dari 90 juta millenial (20-34 tahun). Sebagaimana kita tahu, generasi inilah yang nantinya akan memegang peran penting bagi masa depan Indonesia. Selain jumlah milenial yang melimpah dan memiliki potensi besar di masa depan, studi dari PWC mengenai masa depan ekonomi Indonesia juga terhitung menggembirakan.

Dari situs PricewaterhouseCoopers (PwC) yang merupakan kantor jasa professional terbesar di dunia saat ini, tahun 2050 ekonomi Indonesia berpeluang menjadi yang terbesar ke-4 di dunia. Negeri ini hanya kalah dari China, India, dan USA. Jika itu terjadi, negara ini melejit dari posisi 8 saat PwC melakukan riset di tahun 2016.

Meski menuai perdebatan, data yang disajikan oleh pemerintah mengenai kemiskinan di Indonesia yang menapaki titik terendah sepanjang sejarah bisa juga dijadikan penghiburan. Klaim pemerintah, kemiskinan di Indonesia kini “hanya” sekitar 9,8 persen saja. Sebuah prestasi jika hal ini didasarkan perhitungan BPS yang benar-benar sesuai realita di lapangan.

Melihat beberapa hal positif di atas, maka masa depan Indonesia sepertinya berada di jalur yang tepat. Sayangnya, beberapa fakta yang kita nikmati saat ini terasa pahit sehingga jalan menuju kegemilangan di masa depan terasa amat terjal untuk bisa terwujud.

Salah satunya adalah melemahnya nilai rupiah terhadap mata uang US$. Per 21 Juli 2018 misalnya, The Spectator Index merilis data yang menyedihkan. Rupiah setahun terakhir mengalami penurunan nilai terhadap mata uang Paman Sam hingga minus 9 persen. Angka itu merupakan kelima terburuk setelah Turki, Iran, Pakistan, dan Brasil. Bandingkan dengan Ringgit Malaysia yang mengalami penguatan hingga 5 persen dan kokoh di posisi teratas mata uang yang mengalami penguatan terhadap US dolar.

Meski pemerintah selalu menganggap negeri ini baik-baik saja, namun jumlah utang yang kian besar tentu saja bukan kabar yang menggembirakan. Pemerintah melalui Menteri Keuangan, Sri Mulyani, mengatakan bahwa hingga 31 Mei 2018 posisi utang Indonesia sebesar Rp 4.169 triliun. Pemerintah selalu berkilah bahwa utang Indonesia masih dalam tahapan aman karena dibanding seluruh PDB tetap di bawah 29 persen.

Data lain yang masih memprihatinkan adalah mengenai jumlah pengangguran di Indonesia. Meski diklaim BPS turun, namun angkanya tetap mencengangkan. Tingkat pengangguran terbuka (TPT) di Indonesia per Februari 2018 berjumlah 6,87 juta orang atau 5,13%. Angka ini turun sekitar 2% dibandingkan dengan Februari 2017 yang berjumlah 7,01 juta orang atau 5,33%. Melihat fakta-fakta yang memilukan tersebut, optimisme yang sebelumnya terbangun terasa dihempaskan kembali ke tanah oleh kenyataan. Belum lagi jika fakta-fakta mengenai penegakan hukum, korupsi, kriminalitas, dan kesenjangan ekonomi yang kian lebar.

Kita Butuh Lokomotif Baru dan Canggih!

Untuk memaksimalkan potensi yang ada berupa milenial yang melimpah dan potensi ekonomi Indonesia yang diprediksi menjadi salah satu kampium, diperlukan lokomotif baru dan canggih. Hal ini menjadi sebuah keniscayaan sebab gerbong Indonesia yang saat ini tengah melaju faktanya memiliki kemampuan yang ringkih dengan beban yang berlebihan. Jika lokomotif yang sekarang tetap dipaksakan, khawatirnya “kereta Indonesia” ini tidak akan pernah sampai ke tujuan. Jikapun sampai, beban yang berat akan terlebih dahulu membuat kereta yang ringkih ini porak-poranda di perjalanan.

Jika lokomotif diibaratkan pemimpin, maka sudah waktunya Indonesia dipimpin oleh pemimpin yang baru (muda) dan canggih (cerdas). Pemimpin dengan karakteristik seperti itu, akan lebih mudah membawa rakyat Indonesia yang sebagian besar milenial menuju ke arah kejayaan. Sebagaimana kita tahu, ciri milenial salah satunya adalah mudah beradaptasi dengan kemajuan jaman. Sesuatu yang saat ini harus kita akui masih sulit dijalankan para pemimpin kita.

Pemimpin muda saat ini memang menjadi sebuah kenyataan yang tidak terhindarkan. Beberapa negara sudah memiliki pucuk pimpinan negaranya dengan usia yang masih muda. PM Kanada Justin Trudeau yang (43 tahun), PM Estonia Juri Ratas (38 tahun), PM Ukraina Volodymyr Groysman (38 Tahun), PM Yunani Alexis Tsipras (35 Tahun), Presiden Polandia Andrzej Duda (43 Tahun), Presiden Georgia Giorgi Margvelashvilli (44 Tahun), PM Tunisia Youssef Chahed (40 Tahun), dan Presiden Prancis Emmanual Macron (39 Tahun) adalah nama-nama pemimpin muda yang berusaha membawa negaranya menuju ke arah lebih baik.

Usia muda seperti mereka tentu memiliki keuntungan karena lebih mudah menerima perubahan yang saat ini amat cepat terjadi. Bidang teknologi misalnya, selain memberi banyak keuntungan ternyata juga punya ragam potensi yang membuat kita wajib waspada. Misalnya saja dengan makin canggihnya perkembangan AI yang bukan tidak mungkin menggantikan manusia sebagai tenaga kerja di masa depan. Selain muda, kecerdasan juga mutlak diperlukan karena hal itu merupakan salah satu faktor kunci agar bangsa kita bisa melejit memaksimalkan potensi yang ada.

”Lokomotif Baru dan Canggih” Itu Adalah AHY

Menghadapi fakta-fakta memilukan bangsa ini, AHY bukannya pesimis justru sebaliknya. Ia berani mengambil jalan terjal untuk mewujudkan cita-citanya. Baginya berkeluh kesah saja tidak menyelesaikan persoalan. “Saya ingat ungkapan yang pertama kali muncul tahun 1907 dari William L. Watkinson, jauh lebih baik menyalakan sebatang lilin, daripada mengutuk kegelapan.” tegas AHY dalam suatu kesempatan.

Dalam pendidikan dan penugasan militer dahulu, AHY menegaskan bahwa beliau belajar dan berlatih untuk optimis dalam menghadapi kondisi sesulit apapun, yang bahkan mungkin nyaris tidak mungkin. Pengalaman, yang dibuktikan berbagai riset, menunjukkan bahwa optimisme merupakan faktor penting, yang membedakan pemenang dari pecundang.

Sebagai pemimpin, AHY juga selalu memberi semangat kepada anak-anak muda Indonesia agar berani bermimpi besar dan kemudian berikhtiar keras mewujudkannya. Jika mimpi saja tidak berani, bagaimana kita akan melakukan lompatan-lompatan besar untuk menuju puncak pencapaian? Sejarah mengajarkan pada kita bagaimana kejadian-kejadian yang mengubah arah sejarah atau bahkan peradaban manusia, seringkali dimulai oleh mimpi yang dianggap mustahil. Tanpa mimpi para Bapak Bangsa kita, mungkin tanggal 17 Agustus 1945 kita belum memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Bukan sekedar optimis dan pemberi semangat yang hebat, AHY juga mencontohkan bahwa ia tak pernah malas untuk meningkatkan kapasitas intelektualnya. Sebab itu merupakan modal untuk cepat belajar dan beradaptasi dengan perubahan, karena sekarang kita hidup dalam era perubahan. Ada banyak hal baru, pengetahuan baru, pekerjaan baru dan tantangan-tantangan baru yang 10 atau bahkan lima tahun lalu belum terlihat, misalnya soal big data, bussiness intelligence, kecerdasan buatan, teknologi robotik, internet of things (IoT), rekayasa genetik, mobil otonom dan lain-lain.

Memiliki usia muda, optimisme tinggi, kemampuan intelektual mumpuni, dan jiwa kepemimpinan yang terasah membuat AHY merupakan pilihan yang logis bagi bangsa ini agar meraih potensi terbaiknya. Segala potensi bangsa ini akan sia-sia jika kita menyia-nyiakan pemimpin yang memiliki kemampuan untuk mengelola dengan optimal segala potensi yang ada.

Artikel ini juga telah diterbitkan di laman TribunID.me

Membangun Jiwa Bangsa Tanpa Memecah ala AHY


Semua setuju bahwa tahun 2018 ini merupakan tahun politik. Hampir semua sumber daya partai politik dikerahkan untuk memenangkan kontestasi kekuasaan. Terlebih, 2019 nanti adalah ajang pemilihan RI-1 di mana semua pihak bersiap untuk memenangkannya. Tak ayal, suhu politik kemudian menghangat yang ditimpali dengan berbagai isu kontroversial dan memanfaatkan sentimen tertentu. 

Beruntung, ada tokoh politik muda yang sejauh ini tak terbawa arus hingar-bingar menyebar kegaduhan. Bahkan ketika prestasi ayahnya dinihilkan, anak muda ini tak menggubris sembari tetap menyebarkan optimisme kepada segenap anak muda bangsa Indonesia. Dialah Agus Harimurti Yudhoyono, yang berkeliling Nusantara untuk berbagi ilmu dan inspirasi. 

Kita tentu senang ketika pemerintah sibuk menggunting pita peresmian infrastruktur sebagai tanda maraknya pembangunan di negeri ini. Namun kita tidak boleh lupa bahwa Indonesia juga harus dibangun jiwanya, tidak sekedar badannya. Bangsa yang besar ini harus diberi asupan pengetahuan, bukan sekedar nutrisi dan gizi untuk kepentingan badaniah. 

Pembangunan jiwa inilah yang hari ini di-inisiasi secara konsisten oleh AHY dengan menyambangi kampus-kampus di hampir seluruh negeri. Bukan hanya membangun jiwa negeri ini untuk beberapa tahun ke depan, AHY telah meloncat jauh melampaui para politisi senior yang masih berkutat dengan jargon "Presiden Baru 2019". 

Di kampus-kampus yang disambangi, AHY dengan bernas menggaungkan Indonesia Emas 2045. Jangan heran jika meski sebagai politisi, Direktur Eksekutif The Yudhoyono Institute ini kemudian menggulirkan isu-isu yang kemungkinan menjadi tantangan berat di masa depan. Di Papua misalnya, ia memaparkan bagaimana tantangan berat di masa depan harus bisa dijadikan peluang menguntungkan untuk membangun Papua oleh para pemudanya. (Sumber: Pemuda Harus Mampu Ubah Tantangan Jadi Peluang)

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, AHY menjabarkan bahwa ada enam langkah yang harus dilakukan kaum muda untuk mempersiapkan diri mengawaki Indonesia menuju masa emasnya. Enam langkah tersebut adalah menanamkan idealisme, membangun intelektual, membangun karakter, membangun kepedulian, menanamkan jiwa kepemimpinan, serta terus membangun sinergi dan kolaborasi dengan lingkungan sekitarnya.

Praktis, semua hal yang diungkapkan oleh AHY tidak menyinggung atau menyanjung kelompok manapun. Jika banyak politisi berusaha mendulang simpati dengan memojokkan sekelompok minoritas atau orang-orang yang memiliki perbedaan tertentu lalu membuat gaduh, maka ia dengan sejuk memberikan motivasi kepada para pemuda agar menjadi aktor utama pembangunan di masa datang. 

Menyejukkan Sejak Pertama Hadir

Bukan kali ini saja AHY tampil dengan membarikan aura sejuk kepada bangsa ini. Saat pidato kekalahan Beliau pun hal tersebut terasa begitu nyata. Ia dengan ksatria memberikan ucapan selamat kepada para pemenang sekaligus meminta maaf jika ada kesalahan selama kampanye. Tak berhenti di situ, AHY juga datang ke arena pelantikan. Sebuah sikap yang patut ditiru karena bisa meredam panasnya emosi di akar rumput. Jika dirunut jauh ke belakang, kehadirannya dalam kontestasi Pilkada DKI juga membuat kondisi menjadi lebih sejuk daripada sebelumnya.

Pun ketika banyak politisi mendeklarasikan diri paling religius atau paling Pancasilais, AHY kukuh dengan visinya berbagi inspirasi dan kecerdasan kepada para penerus bangsa. Ia juga tidak terbawa arus untuk menjadi yang terdepan mendeklarasikan diri sebagai yang menolak kemaksiatan dan keburukan.

Keengganan AHY mengeksploitasi perbedaan yang cenderung bisa memecah-belah bangsa dilakukannya secara konsisten. Hal ini terutama seiring dengan cita-citanya mewujudkan Indonesia Emas 2045. Indonesia Emas yang ia maksud adalah Indonesia yang benar-benar aman dan damai, adil dan sejahtera, serta maju dan mendunia. AHY dengan kesadaran penuh menyatakan bahwa visi tersebut sulit dicapai jika bangsa Indonesia sibuk dengan perpecahan dan enggan bekerja sama. (Sumber: AHY: Merawat Bhinneka Menjaga Indonesia)

Jika kita jeli, sesungguhnya sikap yang ditunjukkan AHY menunjukkan bahwa menjadi religius dan Pancasilais sejatinya bisa dilakukan dengan praktik atau perbuatan nyata di lapangan, bukan spanduk atau jargon semata. Bukankah agama Islam menempatkan seseorang yang memakai akalnya pada posisi yang baik? Selain itu, bukankah tujuan negara yang berlandaskan Pancasila ini salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Satu langkah yang dilakukan AHY telah menjadikannya insan yang mempraktikkan religi dan Pancasila tanpa harus menyakiti yang lain. Salut!

Bak artis Hollywood yang datang ke sebuah gala, AHY datang dengan membawa karpet merah bermerek dirinya sendiri tanpa sepengetahuan orang lain. Selain untuk dirinya melenggang di sana, ia membiarkan karpet yang dibawanya juga bisa dijadikan orang lain untuk berjalan dan mengekspresikan diri. Sementara yang lain masih sibuk dengan membawa karpet bermerek agama dan identitas tertentu sembari mengklaim bahwa karpet merah merekalah yang paling baik.

Sudah bisa ditebak, kedatangannya memberi pengetahuan, pembelajaran, dan kegembiraan tanpa menorehkan luka.

Menjadi Santri Bahagia di Pesantren Mang Saep


Sebagai seorang pencari kegembiraan, selain belajar ngaji di pesantren Muhamadiyah saya juga pernah beberapa tahun menghabiskan waktu mengaji di pesantren NU. Di sana, di pesantren yang dikomandani almarhum Mang Saep, saya menemukan kebahagiaan.

Di pesantrennya, Ponpes Rohmanul Huda, beberapa kali mendapat wejangan dari almarhum Kyai Saefulloh. Pembawaannya yang tenang, sejuk, dan penuh aura mampu membuat murid-muridnya tertunduk takzim mendengarkan.

Baliau juga seorang yang pekerja keras dan gampang sekali menolong. Selain menjadi guru di pesantrenya, yang nyaris tanpa pemasukan kecuali dari donasi, Beliau juga merupakan petani yang gigih. Baru beberpa tahun terakhir menjelang kepergiannya, sosok guru yang waktu saya kecil biasa dipanggil Mang Saep ini memiliki usaha sampingan.

Namun meski bertajuk usaha, bukan sekali kami mendapatkan kebaikannya. Pernah suatu ketika mengadakan acara keagamaan, dengan tanpa "ba bi bu" Beliau membantu. Kami yang memang kurang dana, tak pernah diganggunya untuk membayar alat-alat yang ia kaluarkan. Padahal, di waktu yang bersamaan bisa saja ia memakai alatnya tersebut untuk mencari uang.

Jika menceritakan kebaikan sosok Kyai Saep tentu tak akan habisnya. Hal-hal di atas hanya sedikit dari sekian banyak sumbangsihnya untuk sesama. Tentu saja tak ada yang Beliau ungkit-ungkit, termasuk oleh para turunannya. Namun mengingatnya, membuat saya yakin bahwa masa depan dunia masih cerah selama ada orang-orang sepertinya.

Kembali ke masa lalu, sebagai anak kecil saya mendapatkan kebahagiaan tak terkira saat menimba ilmu di pesantren tersebut. Meski singkat, banyak yang bisa didapat dari tempat yang berdiri tepat di samping jalur irigasi tersebut. Salah satu kebahagiaan yang mungkin takkan didapat lagi adalah kebiasaan bermalam di pesantrennya.

Menghabiskan malam-malam bersama kawan-kawan di loteng pesantrennya memberi banyak pengalaman menyenangkan untuk anak kecil seperti saya waktu itu. Banyak hal yang sebelumnya tidak pernah saya tahu kemudian perlahan-lahan masuk dan membekas dalam ingatan. Hal-hal baik dan buruk yang sebelumnya hanya samar-samar kian jelas berkat diskusi intensif dengan kawan-kawan seperjuangan.

Tentu saja peran Kyai Saep tak sedikit di sana. Beliau selalu berusaha ada untuk kami, bahkan ketika saat larut kami masih bersuara layaknya lebah. 

Terima kasih Mang.

Jurus Merangkul Ala Kyai Mur


Melihat masyarakat yang terpecah-belah sekarang ini hanya gara-gara memilih pemimpin, saya teringat tentang kebaikan para ulama di kampung saya. Salah satu yang masih teringat adalah mendiang KH Zainal Mutaqien. 

Kami biasa memanggil Beliau dengan sebutan Kyai Mur. Dialah pendiri sekaligus pengasuh Pondok Pesantren Al-Manar di kampungku. Sekira usia akhir SD dan awal SMP, saya berkesempatan menimba ilmu di sana. Tak lama memang, namun banyak hal yang susah dilupakan baik yang menakutkan maupun menyenangkan.

Menakutkan karena Sang Kyai membawa aliran baru, Muhamadiyah. Sementara sejak berpuluh tahun lamanya, NU sudah lebih dulu mengakar di kampungku. Gesekan tentu saja ada. Namun kerukunan antarpenduduk tetap terjaga. Perbadaan paham tentu saja terkadang membuat penganutnya saling klaim kebenaran. Tapi di kampungku semuanya masih dalam batas kewajaran. Sebab, hampir semua orang yang tinggal di sana memiliki ikatan darah alias bersaudara.

Tidak semua warga kampungku yang memang berstatus sebagai Islam yang taat. Salah satunya tentu saja saya. Bagi banyak kaum santri, anak-anak dan keluarga seperti saya digolongkan sebagai abangan alias Islam KTP. Bahkan konon, saking kurangnya kadar iman orang-orang seperti kami menikah dengan kaum santri hanyalah hayalan. Kami adalah golongan orang-orang yang "jauh dari mesjid".

Untuk bisa menikahi kekasih dari golongan santri, kami harus mengubah kebiasaan buruk kami yang jarang beribadah. Namun tentu saja kebiasaan itu susah diperbaiki. Beruntung, kemudahan datang seiring hadirnya Sang Kyai.

Kedatangan Kyai Mur membawa banyak perubahan. Salah satu yang nyata adalah dirangkulnya kami yang Islam KTP ini untuk berbondong-bondong ke pesantrennya. Pendekatan yang berbeda membuat anak-anak dan orang tua yang tadinya jarang bersentuhan dengan agama menjadi militan. Kadar militansi inilah sebenarnya yang membuat gesekan-gesekan kecil sering terjadi.

Sebagai anak-anak, waktu itu saya tak terlalu memperhatikan kenapa orang-orang yang dahulu dicap "jauh dari masjid" kemudian begitu entengnya bergabung dengan Kyai Mur. Barulah beberapa tahun setelahnya saya mengerti bahwa pendekatan Beliau yang merangkul itulah penyebabnya.

Jika banyak yang lebih suka menjuluki kami sebagai kaum kurang beriman, Beliau justru sebaliknya. Dia dekati orang-orang yang kurang beriman ini tanpa label. Karena tanpa label inilah yang membuat kami kemudian tergerak. 

Pesan yang dibawa sama, kebenaran Illahi. Hanya saja, kemasan kedua kubu dalam mendapatkan simpati kami berbeda. Kyai Mur memilih pendekatan yang "memanusiakan" daripada memberikan label atau cap yang buruk. Beliau mendekati alih-alih menjauhi. Beliau mengajak, bukannya mencela.

Tentu saja para kyai NU juga melakukan hal yang sama. Berdakwah kepada kami agar kembali ke jalan yang benar. Hanya saja, kebaruan yang ditawarkan Kyai Mur mungkin lebih menarik warga. Kebaruan yang dibungkus kemasan menarik itulah kelebihannya.

Jika dibandingkan dengan hari ini, sosok seperti Kyai Mur tentu dirindukan. Orang-orang yang memiliki tutur kata sejuk dan santun mungkin akan meredakan ketegangan yang ada saat ini. Keengganannya memberikan label buruk pada orang yang berbeda atau tidak sejalan adalah salah satu kekuatan atau charisma terbesarnya.

Sayangnya, sebagaimana orang baik pada umumnya, Beliau terlalu cepat dipanggil Tuhan. Kejayaan pesantren saat Kyai Mur memimpin kini kian menurun. Semoga, benih-benih kebaikan yang dibawanya kian berakar dan mekar di kampungku.