Siapa Peduli Statistik Gehol?

4:56:00 PM Gehol Gaul 1 Comments



Diantara berbagai bentuk kebohongan, statistik dipandang sebagai kebohongan yang paling canggih. Ia menyajikan data dengan terstruktur, logis dan meyakinkan. Namun, sejatinya kelemahan statistik tersaji dengan amat nyata. Hanya saja terkesan kabur seiring mengaburnya hasrat menyesuaikan data dan fakta.

Keengganan meneliti data inilah biang kerok dari tetap anggunnya keadaan dalam hayalan angka ala statistik.  Keengganan ini kian besar begitu metodologi yang digunakan sebagai dasar pembentukan angka tidak dikuasai. Data-data yang ada seolah-olah hadir dengan teknik sulap, meski sang pengepul data sebenarnya telah dengan susah payah menjelaskan darimana angka tersebut dijaring.


Data dalam bungkus statistik akan menuai kritik ketika fakta yang coba digambarkan terkesan jauh panggang dari api. Angka seolah menggambarkan keindahan langit namun fakta yang ditemukan adalah gurun gersang tanpa air. Begitulah imej statistik. 

Namun, bukan gentleman jika hanya mengkritik tanpa menelisik. Untuk statistik Sindangwangi, tempat dimana Gehol bernaung, mari kita urai dalam kacamata awam. Sesuaikan data dan mari sedikit mengais fakta yang ada di lapangan. Sebagai subjek, mari analisa data dari http://brebeskab.bps.go.id yang sudah bisa diakses publik.

Sebagai tolak ukur, mari kita ulas data-data ekonomi Desa Sindangwangi dari tahun ke tahun. Tahun 2010 dalam laporan Kecamatan Bantarkawung dalam Angka edisi 2011, Sindangwangi memiliki 24 kios atau warung. Angka yang sama didapat dalam laporan edisi 2012 yang menyorot fakta tahun 2011. Lihatlah faktanya, warung dan kios di Gehol saja dijamin lebih dari angka tersebut. Itulah statistik. Lucunya jumlah yang sama juga ada dalam laporan tahun 2010. Artinya, sejak 2009 hingga 2011, jumlah kios atau warung di Sindangwangi ajeg.
 
Salah satu tanda kemakmuran lainnya adalah kendaraan. Tahun 2012 tercatat ada 7 mobil pribadi, 6 sepeda motor dan 142 sepeda ontel dan 21 andong atau dokar. Tahun 2011 tercatat angka yang jauh lebih tinggi kecuali sepeda ontel dan motor, yaitu: 6 mobil, 142 sepeda motor, dan 21 sepeda ontel. Tak kalah lucu, laporan tahun 2009 pun mencantumkan angka yang sama dengan 2011. Inilah statistik, kemalasan telah mendewakan copy paste. Hal ini diperparah dengan malasnya warga yang didata untuk menelisik seberapa akurat data yang di-collect. Bisa jadi tahun 2012 jumlahnya sama seandainya salah ketik tidak terjadi.
 
Angka-angka di atas sebenarnya bisa dibilang mustahil akan sama mengingat pertumbuhan ekonomi dan kepemilikan kendaraan di Sindangwangi meningkat dengan tajam. Sepeda motor misalnya, jika saja pencatata data mau membuka mata dan menjauhi copy paste, maka seharusnya angkanya sudah tembus 1000 buah.  Apalagi sepeda ontel, jumlahnya mustahil ajeg, mengingat dalam dua tahun terakhir dua keponakanku saja telah menambah koleksi sepeda ontel di Desa Sindangwangi.

Mari kita lihat lagi kehebatan statistik mengenai kependudukan.  Penduduk Sindangwangi tahun 2012 adalah 7.699, yang tahun 2011 7.663, sedangkan pada tahun 2009 penduduk Sindangwangi berjumlah 7.544. Simpulkan sendiri betapa hebatnya program KB di Sindangwangi hingga dalam setahun hanya ada pertambahan penduduk 36 saja. Jika ini benar, maka pengendalian pertambahan di Sindangwangi tentu perlu diapresiasi dan diacungi jempol.

Lalu siapa yang dirugikan? Tentu saja tidak ada sebab selama ini toh penduduk Desa Sindangwangi tak terganggu dengan segala macam hayalan angka-angka di atas. Warga juga tak peduli ketika laporan mengenai statistik ini dari tahun ke tahun sama redaksinya. Meski patut dikritisi bahwa jika angka yang sederhana saja dipalsukan bagaimana dengan angka yang lebih rumit terutama berupa anggaran?

1 comment:

  1. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete