Tuesday, May 8, 2012

0 Tenggok Khas Jipang Akankah Bertahan?


Tenggok

Hasil kerajinan tangan dari Desa Jipang, Kecamatan Bantarkawung yang satu ini sudah menyebar di berbagai tempat baik di Jawa Barat maupun Jakarta. Sudah barang tentu orang di seputar Bantarkawung pun telah mengenalnya.

Kerajinan tangan yang biasa disebut tenggok yakni tas tenteng dari bahan sejenis bambu yang oleh kebanyakan dipakai untuk tempat beras, itulah produk yang dibuat oleh sebagian warga Desa Jipang.

Tokoh yang sudah dikenal sebagai pembuat tenggok dari Desa Jipang adalah Sukawan (47), yang sehari-harinya adalah guru di SDN Cikuning 03, Bantarkawung. Melalui tenggok hasil kerja tangan terampil Sukawan ini, nama Jipang dan Bantarkawung dikenal.

Sukawan mengakui bila tenggok hasil karyanya itu bukan dari dirinya sebagai pencetus idenya. Tenggok yang dibuatnya itu pertama kali dibawa ke Jipang oleh seorang mantan tahanan politik (tapol) di Nusakambangan, Cilacap yang kembali ke Jipang. Tapol itu ketika datang ke Jipang dengan bekal keterampilannya saat menjadi tahanan membuat tenggok dari anyaman bambu.

''Ketika saya pertama kali melihat, saya langsung tertarik. Kalau tenggok yang cukup menarik bentuknya itu bisa dipelajari dan dibuat sendiri. Tahun 1990-an, saya mencoba membuat tenggok dan ternyata bisa,'' tuturnya.

Setelah dapat membuatnya, katanya, tenggoknya itu dilirik oleh orang yang ada di Jipang dan sekitarnya. Agar hasil kerajinannya itu lebih menarik, dia membuat dengan beberapa model, seperti bentuk bulat, oval dengan anyaman warna-warni.

Tenggok produknya, yang dipakai warga Jipang dan Bantarkawung itu lama kelamaan menyebar. Termasuk ketika ada orang Bantarkawung yang bepergian ke luar kota seperti Jakarta dan Jawa Barat, tenggok itu dibawanya. 

Ternyata orang luar yang melihatnya tertarik dan menanyakan dari mana asalnya. Setelah tahu produk itu buatan Sukawan dan keluarganya, pesanan dari luar kota pun berdatangan. ''Pesanan banyak datang dari Jawa Barat dan Jakarta. Sekali ada pesanan bisa mencapai 100 buah. Kalau banyak pesanan seluruh anggota keluarga dan sanak familinya dilibatkan,'' jelas Sukawan.

Untuk satu tenggok, katanya, dia menjualnya dengan harga antara Rp 20.000 - Rp 25.000. Harga itu katanya masih bisa terjangkau. Satu tenggok bisa diselesaikan dalam waktu dua hari.

Kendala yang dihadapinya untuk memproduksi adalah bahan bakunya. Tenggok yang dibuat ini bahan bakunya bangban yakni sejenis tanaman perdu yang ada di kawasan hutan Gunung Segara di daerah Kecamatan Salem. ''Bahan baku ada yang mensuplai dari warga Sindangwangi, Kecamatan Bantarkawung. Bahan baku untuk membuat tenggok ini cukup sulit diperoleh,'' tambahnya.

Bagi Sukawan sendiri keterampilan membuat tenggok yang sudah lumayan dikenal ternyata bukan sebagai kegiatan pokok. Diakuinya keterampilan membuat tenggok ini dilakukan sebagai kerja sambilan. Sebab tugas utamanya adalah sebagai guru. ''Secara ekonomis keterampilan membuat tenggok ini belum menguntungkan, karena bagi saya kegiatan ini hanya sebagai sambilan saja,'' tuturnya.

''Sebenarnya saya sudah membuka pintu lebar-lebar bagi pemuda Jipang untuk belajar membuat tenggok tanpa dipungut biaya sepeserpun. Siapa saja yang mau belajar silahkan datang. Siapa tahu dari pemuda Jipang bisa mengembangkannya menjadi sebuah usaha yang menguntungkan,'' katanya.

Sayangnya sampai saat ini tidak banyak yang berminat untuk meneruskan keterampilan membuat tenggok. Tidak banyaknya peminat untuk belajar membuat barang itu diakui oleh Kepala Desa Jipang Hasari. Menurut Hasari pemuda Jipang tak tertarik menjadi perajin tenggok karena pemuda Jipang kebanyakan meneruskan sekolah dulu.

''Sebenarnya kalau ditekuni, usaha membuat ini cukup prospektif. Sebab pesanan dari luar kota seperti Jawa Barat, Jakarta dan kota lain sering datang. Bila banyak pesanan, balai desa pun dipersilahkan untuk dipakai membuat tenggok-tenggok khas Jipang,'' jelasnya.

Dari Dinas Perindustrian Kabupaten Brebes beberapa waktu lalu juga pernah datang untuk ikut mengembangkan produk yang selama ini dibuat oleh keluarga Sukawan. Tapi keterampilan membuat tenggok ini belum juga diminati oleh orang lain, meskipun hasilnya lumayan prospektif. ''Sebenarnya patut disayangkan kalau kerajinan yang hasilnya lumayan ini hanya untuk sambilan saja,'' imbuh Hasari. 

www.suaramerdeka.com

0 comments:

Post a Comment

 

GEHOL GAUL Copyright © 2011 - |- Template created by O Pregador - |- Powered by Blogger Templates